Rabu, 29 Januari 2014

EMOSI


Manusia adalah makhluk sosial yang eksploratif dan potensial. Manusia dikatakan makhluk yang eksploratif karena manusia memiliki kemampuan untuk mengembangkan diri baik secara fisik maupun psikis. Manusia sebagai makhluk potensial karena pada diri manusia tersimpan sejumlah kemempuan bawaan yang dapat diembangkan secara nyata. Selanjutnya manusia disebut sebagai makhluk yang memiliki prinsip tanpa daya karena untuk tumbuh dan berkembang secara normal memerlukan bantuan dari luar dirinya. Bantuan yang dimaksud antara lain adalah dalam bentuk bimbingan serta pengarahan. Binbingan dan pengarahan yang diberikan dalam membantu perkembangan tersebut pada hakekeatnya diharapkan sejalan dengan kebutuhan manusia itu sendiri, yang sudaah tersimpan sebagai potensi bawaannya. Karena itu bimbingan tidak searah dengan potensi yang dimiki akan berdampak negative bagi perkembangan manusia.(Hurlock 1990: 246):

·          Awal (18 – 40 tahun)
Pada masa ini perubahan-perubahan yang nampak antara lain perubahan dalam hal penampilan, fungsi-fungsi tubuh, minat, sikap, serta tingkah laku sosial
·          Madya (40 – 60 tahun)
Pada masa ini kemampuan fisik dan psikologis seseorang terlihat mulai menurun. Usia dewasa madya merupakan usia transisi dari Adulthood ke masa tua. Transisi itu terjadi baik pada fungsi fisik maupun psikisnya.
·         Akhir (60 – Meninggal)
Pada masa dewasa lanjut, kemampuan fisik maupun psikologis mengalami penurunan yang sangat cepat, sehingga seringkali individu tergantung pada orang lain. Timbul rasa tidak aman karena faktor ekonomi yang menimbulkan perubahan pada pola hidupnya.

kita persempit bahasan menuju psikis, minat, serta tingkah laku sosial lebih spesifiknya lagi kita garis bawahi perkara emosinal.

Emosi yang berlebihan paling sering dialami oleh kaum muda, orang yang kurang pendidikan dan kurang pergaulan. Hal ini merupakan hasil survey yang dilakukan oleh tim peneliti dari Universitas Toronto.

Survey tersebut dilakukan pada 1.800 warga negara Amerika Serikat yang berusia 18 tahun keatas. Para warga diberi pertanyaan bagaimana dan kapan mengalami rasa emosi. Menurut kepala peneliti dari Universitas Toronto, Scott Schieman survey tersebut dilakukan untuk mengetahui potret sosial kemarahan warga Amerika Serikat.

Ekspresi emosi bisa bermacam-macam. Tapi dalam survey yang dilakukan, emosi dikategorikan sebagai rasa kesal hingga berteriak kencang untuk mengungkapkan kemarahan. Marah merupakan hal wajar dalam emosi manusia dan bisa menjadi tolak ukur tentang hal apa yang bisa ditolerir seseorang dan apa yang tidak.

Hasil survei yang dilakukan tahun 2005, oleh tim peneliti dari Universitas Toronto, menunjukkan orang yang berusia dibawah 30 tahun paling sering merasa emosi. Hal itu karena mendapat banyak tekanan dari tiga hal, yaitu tekanan waktu, ekonomi dan konflik dengan individu lain ditempat kerja.

Tekanan waktu merupakan hal yang paling sering memicu rasa kesal atau marah. Orang yang bekerja di bidang keuangan lebih cepat emosi karena dituntut membuat laporan secara cepat dan dikejar tenggat waktu.

Keadaan ekonomi juga sangat mudah memicu kemarahan seseorang. Mengasuh dan menghadapi sikap anak yang susah diatur, seringkali memicu emosi dan rasa marah terutama pada kaum wanita.

"Menjadi orangtua adalah saat-saat menyenangkan. Namun, aspek lain seperti memberi arahan dan menghadapi sikap anak yang kurang disiplin seringkali memicu rasa marah," kata Schieman, seperti vivanews kutip dari Live Science.

Seseorang yang kurang berpendidikan juga mudah sekali terpancing emosi saat tidak direspon dengan baik. Menurut Schieman, hal itu karena pendidikan berhubungan dengan kontrol diri dan emosi.

Namun Anda perlu tahu, bahwa mengekspresikan kemarahan adalah hal yang sehat. Tetapi tergantung bagaimana cara kita mengekspresikan dan mengontrol emosi sebaik-baiknya.

Bahkan sebuah penelitian menunjukkan, seseorang yang sering mengekspresikan rasa marahnya, bisa hidup lebih lama dibandingkan dengan seseorang yang jarang memperlihatkan emosinya.

sudut solusi telusur :
Salah satu kebutuhan terkuat yang dibutuhkan manusia adalah perasaan aman. Aman didalam diri dan lingkungannya. 
Seorang psikolog Dr. Gary Chapman, dalam bukunya “lima bahasa cinta” mengatakan kita semua memiliki tangki cinta psikologis yang harus diisi, lebih tepatnya jika anak maka orangtuanya yang sebaiknya mengisi. Anak yang tangki cintanya penuh maka dia akan suka pada dirinya sendiri, tenang dan merasa aman. Hal ini dapat diartikan sebagai orang yang berbahagia dan memiliki “inner” motivasi.
“Mencintai tidak sama dengan anak merasa dicintai”

Apa yang menyebabkan kebutuhan rasa aman tidak terpenuhi?
• Membandingkan bandingkan
• Mengkritik dan mencari kesalahan
• Kekerasan fisik dan verbal



Tidak ada komentar:

Posting Komentar