Manusia adalah makhluk sosial yang eksploratif
dan potensial. Manusia dikatakan makhluk yang eksploratif karena manusia
memiliki kemampuan untuk mengembangkan diri baik secara fisik maupun psikis.
Manusia sebagai makhluk potensial karena pada diri manusia tersimpan sejumlah
kemempuan bawaan yang dapat diembangkan secara nyata. Selanjutnya manusia
disebut sebagai makhluk yang memiliki prinsip tanpa daya karena untuk tumbuh
dan berkembang secara normal memerlukan bantuan dari luar dirinya. Bantuan yang
dimaksud antara lain adalah dalam bentuk bimbingan serta pengarahan. Binbingan
dan pengarahan yang diberikan dalam membantu perkembangan tersebut pada
hakekeatnya diharapkan sejalan dengan kebutuhan manusia itu sendiri, yang
sudaah tersimpan sebagai potensi bawaannya. Karena itu bimbingan tidak searah
dengan potensi yang dimiki akan berdampak negative bagi perkembangan manusia.(Hurlock
1990: 246):
·
Awal (18 –
40 tahun)
Pada masa ini perubahan-perubahan yang nampak antara lain perubahan dalam hal
penampilan, fungsi-fungsi tubuh, minat, sikap, serta tingkah laku sosial
·
Madya (40 – 60
tahun)
Pada masa ini kemampuan fisik dan psikologis seseorang terlihat mulai menurun.
Usia dewasa madya merupakan usia transisi dari Adulthood ke masa tua. Transisi
itu terjadi baik pada fungsi fisik maupun psikisnya.
·
Akhir (60 – Meninggal)
Pada masa dewasa lanjut, kemampuan fisik maupun psikologis mengalami penurunan
yang sangat cepat, sehingga seringkali individu tergantung pada orang lain.
Timbul rasa tidak aman karena faktor ekonomi yang menimbulkan perubahan pada
pola hidupnya.
kita persempit bahasan menuju psikis, minat, serta tingkah laku
sosial lebih spesifiknya lagi kita garis bawahi perkara emosinal.
Emosi yang
berlebihan paling sering dialami oleh kaum muda, orang yang kurang pendidikan
dan kurang pergaulan. Hal ini merupakan hasil survey yang dilakukan oleh tim peneliti
dari Universitas Toronto.
Survey tersebut dilakukan pada 1.800 warga
negara Amerika Serikat yang berusia 18 tahun keatas. Para warga diberi
pertanyaan bagaimana dan kapan mengalami rasa emosi. Menurut kepala peneliti
dari Universitas Toronto, Scott Schieman survey tersebut dilakukan untuk
mengetahui potret sosial kemarahan warga Amerika Serikat.
Ekspresi emosi bisa bermacam-macam. Tapi dalam
survey yang dilakukan, emosi dikategorikan sebagai rasa kesal hingga berteriak
kencang untuk mengungkapkan kemarahan. Marah merupakan hal wajar dalam emosi
manusia dan bisa menjadi tolak ukur tentang hal apa yang bisa ditolerir
seseorang dan apa yang tidak.
Hasil survei yang dilakukan tahun 2005, oleh
tim peneliti dari Universitas Toronto, menunjukkan orang yang berusia dibawah
30 tahun paling sering merasa emosi. Hal itu karena mendapat banyak tekanan
dari tiga hal, yaitu tekanan waktu, ekonomi dan konflik dengan individu lain
ditempat kerja.
Tekanan waktu merupakan hal yang paling sering
memicu rasa kesal atau marah. Orang yang bekerja di bidang keuangan lebih cepat
emosi karena dituntut membuat laporan secara cepat dan dikejar tenggat waktu.
Keadaan ekonomi juga sangat mudah memicu
kemarahan seseorang. Mengasuh dan menghadapi sikap anak yang susah diatur,
seringkali memicu emosi dan rasa marah terutama pada kaum wanita.
"Menjadi orangtua adalah saat-saat
menyenangkan. Namun, aspek lain seperti memberi arahan dan menghadapi sikap
anak yang kurang disiplin seringkali memicu rasa marah," kata
Schieman, seperti vivanews kutip dari Live Science.
Seseorang yang kurang berpendidikan juga mudah
sekali terpancing emosi saat tidak direspon dengan baik. Menurut Schieman, hal
itu karena pendidikan berhubungan dengan kontrol diri dan emosi.
Namun Anda perlu tahu, bahwa mengekspresikan
kemarahan adalah hal yang sehat. Tetapi tergantung bagaimana cara kita
mengekspresikan dan mengontrol emosi sebaik-baiknya.
Bahkan sebuah penelitian menunjukkan,
seseorang yang sering mengekspresikan rasa marahnya, bisa hidup lebih lama
dibandingkan dengan seseorang yang jarang memperlihatkan emosinya.
sudut solusi telusur
:
Salah satu kebutuhan terkuat yang
dibutuhkan manusia adalah perasaan aman. Aman didalam diri dan
lingkungannya.
Seorang psikolog Dr. Gary Chapman,
dalam bukunya “lima bahasa cinta” mengatakan kita semua
memiliki tangki cinta psikologis yang harus diisi, lebih tepatnya jika anak
maka orangtuanya yang sebaiknya mengisi. Anak yang tangki cintanya penuh maka
dia akan suka pada dirinya sendiri, tenang dan merasa aman. Hal ini dapat
diartikan sebagai orang yang berbahagia dan memiliki “inner” motivasi.
“Mencintai tidak sama dengan anak
merasa dicintai”
Apa yang menyebabkan kebutuhan rasa
aman tidak terpenuhi?
• Membandingkan bandingkan
•
Mengkritik dan mencari kesalahan
• Kekerasan
fisik dan verbal